Skip to main content

Posts

Perempuan Dalam Gelap

Ketika banyak motivator berkata love yourself dan banyak ajakan self love  berkeliaran dimana-mana, aku justru tersesat dalam mencintai diriku. Bagaimana caranya? Aku sendiri berputar-putar mencari makna dan bentuk dari cinta.  Apakah itu dengan bangun awal lalu lari pagi? atau keramas setiap hari dan pergi ke salon sebulan sekali? Bagaimana dengan tetap berpikir positif meski dunia begitu mencekam? Adakah bentuk cinta yang utuh yang dapat aku lihat dan jadikan sebagai contoh?  Dan kemudian, meski aku lakukan itu semua, rasanya tetap sama. Tetap ada bagian dalam diri yang kosong dan tidak pernah cukup.  Dan kemudian, sampai tiba waktunya aku bertemu Dia.  Di dalam ruangan kecil berjendela tanpa jeruji, Psikolog yang duduk di hadapanku meminta aku untuk bertemu dengan sisi dan peran-peran yang sudah aku tulis sebelumnya. Dengan beberapa kali tarikan napas, aku menjelajahi bagian-bagian alam bawah sadar.  Ada dua tempat yang begitu membuatku ingin mendatangin...
Recent posts

Hutan Mati di Bulan Maret

Jadi,  Rangkaian timelapse  yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop.   Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa?  Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...

Timelapse Februari

Hey,  Aku masih berusaha mencari-cari letak jurang yang membuatku asing pada diri sendiri. Lagi, perasaan takut, khawatir, kalut yang juga berdampingan pada banyak pertanyaan  apa pun di dunia ini masih terbawa dari Januari. Tentang kemana seharusnya aku pergi. Dimana aku berhenti. Dengan siapa aku bersama. Meski diriku yang lain berusaha menutup pintu dan mundur sejauh yang dia bisa.  Bagian diri yang itu hanya sedang tidak percaya pada secangkir kopi yang disebut-sebut mampu menyalakan senyum seseorang. Dan Prep masih setia mendampingi langkahku menari di tengah suka cita yang berusaha kubangun di tengah semua itu. Aku rindu pada amanku. Rindu nyamanku. Rindu bahagiaku meski sendiri.  Kadang kehampaan itu meluas seperti rembesan air di atas tissue yang mengisapku masuk ke dalam hutan mati  yang sekarang kulabeli sebagai cold place. Tapi ini bulan cinta. Seingatku waktu itu seminggu menjelang masa akhir bulan cinta, akhirnya matahari terbit dengan begitu halus,...

Pulang - Susanne (Pt. 1)

Sejak lilin petanda usia 17 tahun, aku menyambut dunia penuh gairah kebebasan dan suka cita. Rasanya seperti ada Pelangi yang terbentang menungguku, naif sekali. Aku yang masih “hijau” kala itu lupa, bahwa tidak pernah ada Pelangi tanpa mendung dan hujan. Lalu, bermodal antusias aku pergi meninggalkan rumah .  Namun, modal itu nyatanya tidak cukup kokoh melewati mendung dan hujan kala itu. Bertahun - tahun kemudian, aku sadar bahwa telah ada rasa kalah ditengah sesak kesedihan dan kecewa. Sedih karena tahu dunia di luar rumah tidak semenarik warna Pelangi yang bahkan belum pernah kulihat benar atau tidak adanya. Kecewa karena tahu aku lemah, saat itu. Dan saat itu, berkawan lelah, setelah puluhan ribu hari, aku memutuskan pulang. * https://id.pinterest.com/pin/372109987974733217/ Sepanjang perjalanan pulang, melewati jalan kecil selebar urat nadi, aku mendengar kamu, mendengar kalian, mendengar mereka. Lantang berteriak memohonku kembali. Namun, setiap kutolehkan kepala, tidak aku ...

Cerita Januari

Seperti gedung - gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, ada hawa kenangan lama yang menjadi debu menempel pada dinding marmer dingin atau menempel pada dinding lift dan tempat sampah. Tidak juga tersapu cairan pembersih, sebab itu adalah kenangan.  Kepada tahun lalu yang mungkin untuk sebagian orang adalah tahun terbaik, tapi juga bisa jadi yang terburuk untuk sebagian orang. Meski kembang api belasan warna meletus diangkasa yang gelap, tidak juga mampu melebur kenangan, konyol mana bisa kenangan dalam setahun penuh tersapu bersih dalam satu malam.  Seperti gedung-gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, aku juga sama. Melewati pembatas tahun dalam hitungan detik rasanya luar biasa, apalagi dilewati sambil menari-nari kecil dengan kuping tersumbat musik-musik PREP sepanjang jalan Sudirman. Kala itu tenang dan damai adalah kawan yang sangat menyenangkan. Kawan yang membuatku merasa jadi manusia dan wanita paling bahagia dengan ...

The color of life - Marlin

Waktu itu sekitar pukul delapan malam-di dalam bis kota yang jendelanya berembun karena suhu AC yang sangat rendah dan aku sambil mendengar 'Rehat' lagu yang kuputar terus sejak hampir 30 menit lalu. Tiba-tiba seseorang berkata " it wasn't your fault ". Suaranya terdengar samar tapi sangat mampu membuatku heran.  Gimana nggak ? Pertama, kalimatnya seolah penengah antara aku dan pikiranku. Kedua, suara itu berasal dari orang asing. Ketiga, rok merah ketat pendek di atas lutut yang dia pakai sangat menarik perhatian. " It wasn't your fault. " Ulangnya sekali lagi sambil menatapku melalui pantulan kaca bus yang berembun.  "Kita hidup di berbagai sisi. Kamu bisa salah, bisa juga benar, bisa juga biasa aja. Berhenti nyalahin diri sendiri. Emang kenapa kalo kamu begitu? Kenapa kalo kamu melanggar janji ke diri sendiri?"  Aku mengetuk 2 kali earphone yang aku pakai karena ingin mendengar kalimatnya lebih jelas lagi. Musik berhenti. Aku menoleh ke ...

SEPI SENDIRI - Lina

Ketakutan yang merambati diriku malam ini membawaku pada Lina. Dia adalah gadis kecil kelas dua sekolah dasar, bermata cokelat apabila kamu melihatnya dari dekat, dia kurus tapi bukan berarti dia tidak suka makan. Rambutnya panjang hitam dan lebat. Lina menyukai dress biru selutut yang dibelikan ibunya di Idul Fitri tahun lalu, hanya saja saat ini situasi sekeliling membuat dia tidak menikmati indahnya dress biru.  Padahal hari itu masih siang. Sekitar antara pukul dua siang menuju setengah tiga sore. Lina meringkuk di kasur bawah ranjang susun milik dia dan adiknya. Ku kira dia ketakutan karena rumor hantu yang beredar di dalam rumah, ternyata bukan.  Diam-diam wajah Lina basah. Tangisannya sepi meski begitu sesekali dia gemetar karena sesenggukan. Aku tidak tahu harus apa meski ingin menyapa dan menghibur, tapi ruang dan waktu membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bahkan tidak sadar, kejadian itu begitu mengiris hati anak seusia Lina.  Lina berharap pukul empat nant...