Ketika banyak motivator berkata love yourself dan banyak ajakan self love berkeliaran dimana-mana, aku justru tersesat dalam mencintai diriku. Bagaimana caranya? Aku sendiri berputar-putar mencari makna dan bentuk dari cinta. Apakah itu dengan bangun awal lalu lari pagi? atau keramas setiap hari dan pergi ke salon sebulan sekali? Bagaimana dengan tetap berpikir positif meski dunia begitu mencekam? Adakah bentuk cinta yang utuh yang dapat aku lihat dan jadikan sebagai contoh? Dan kemudian, meski aku lakukan itu semua, rasanya tetap sama. Tetap ada bagian dalam diri yang kosong dan tidak pernah cukup. Dan kemudian, sampai tiba waktunya aku bertemu Dia. Di dalam ruangan kecil berjendela tanpa jeruji, Psikolog yang duduk di hadapanku meminta aku untuk bertemu dengan sisi dan peran-peran yang sudah aku tulis sebelumnya. Dengan beberapa kali tarikan napas, aku menjelajahi bagian-bagian alam bawah sadar. Ada dua tempat yang begitu membuatku ingin mendatangin...
Jadi, Rangkaian timelapse yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop. Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa? Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...