Waktu itu sekitar pukul delapan malam-di dalam bis kota yang jendelanya berembun karena suhu AC yang sangat rendah dan aku sambil mendengar 'Rehat' lagu yang kuputar terus sejak hampir 30 menit lalu. Tiba-tiba seseorang berkata "it wasn't your fault". Suaranya terdengar samar tapi sangat mampu membuatku heran.
Gimana nggak? Pertama, kalimatnya seolah penengah antara aku dan pikiranku. Kedua, suara itu berasal dari orang asing. Ketiga, rok merah ketat pendek di atas lutut yang dia pakai sangat menarik perhatian.
"It wasn't your fault." Ulangnya sekali lagi sambil menatapku melalui pantulan kaca bus yang berembun.
"Kita hidup di berbagai sisi. Kamu bisa salah, bisa juga benar, bisa juga biasa aja. Berhenti nyalahin diri sendiri. Emang kenapa kalo kamu begitu? Kenapa kalo kamu melanggar janji ke diri sendiri?"
Aku mengetuk 2 kali earphone yang aku pakai karena ingin mendengar kalimatnya lebih jelas lagi. Musik berhenti. Aku menoleh ke arahnya dan dia pun melakukan hal yang sama. 'Marlin' aku membaca dalam hati nama di kalung yang dia pakai. Aku juga melihat Marlin ini adalah perempuan yang setinggi sama denganku, kira-kira 155 sentimeter. Rok merah ketat pendeknya dia padukan dengan kemeja warna abu-abu terang dan blazer hitam. Marlin mengikat acak setengah rambutnya dan setengah lagi dibiarkan terurai menutupi leher.
"Kamu siapa?"
"Nanti juga tahu." Jawab Marlin santai tanpa berpaling melihatku.
**
Well, pertemuanku dengan Marlin adalah hal paling random. Selain bertemu pertama kali di bus, pertemuan lainnya terjadi di coffee shop, toilet mall, jalur Thamrin ketika CFD, dan halte bus. Kemunculan Marlin seperti asap tanpa percikan api. Suara dan kata-kata yang diucapkannya selalu mengagetkan, lepas, dan jauh dari jangkauan alam pikirku. Aku simpulkan, dia adalah seorang mind reader berjiwa bebas.
Ya terus, apalagi kalau bukan itu? Kami berdua 'kan orang asing satu sama lain. Jangankan ke Marlin, ke sahabatku sendiri saja aku belum cerita apa yang sudah aku lakukan tiga minggu lalu, tapi Marlin tahu, dia paham perang macam apa yang sedang ada di dalam diriku. Antara hati, pikiran, dan aku sebagai tuannya.
Di suatu malam, melalui pertemuan random lainnya, aku menyempatkan waktu mengiyakan ajakan Marlin ke pasar malam. 'Shit' dalam hati aku memaki ide Marlin, kepala ku langsung pusing ngeliat banyak sekali orang dengan segala macam berisik.
Seperti tahu apa yang aku rasakan, Marlin megajakku menepi. Kami duduk di kursi plastik di dekat kolam ikan buatan. Lalu, sambil makan kue pancong, Marlin mengajakku fokus memperhatikan dua anak kecil berebut area dan orang tua mereka memancing ikan di kolam dari plastik.
"Lihat tuh. Ada yang pasif, ada yang agresif." Kata Marlin menunjuk-nunjuk.
"Terus?"
"Menurut kamu, anak-anak itu gedenya seperti apa?"
"Ya, udah kelihatan lah!"
Marlin menggeleng. "Buka mata kamu. manusia di dalam ini nggak cuma hitam dan putih. Mereka bisa jadi pink, ungu, tosca. Kita hidup bukan buat satu pemikiran atau satu kejadian aja. Ada banyak kejadian-kejadian yang pada akhirnya mengaburkan warna asli kita. But, does it wrong? No. As long as you can see your true color and understand that every color is good, you don't have to blame yourself. Nikmatin aja!"
Aku diam-bingung dan sambil menahan rasa mual. Lalu Marlin bangun dari kursi dan melanjutkan kalimatnya sambil berdiri.
"If you are white, and you got a red. Why don't you be pink then? Kamu nggak perlu salahin keadaan apalagi salahin diri sendiri. Emangnya salah kalau ada warna merah dalam hidup kamu. Be alive." Ujar Marlin antuasias dan kali ini menyadarkan aku kemana sebenarnya arah perkataan ini. Dan sudah kubilang, dia itu mind reader.
**
Di akhir perpisahan kami malam itu-di dalam halte bus, Aku menatap Marlin agak lama dan dalam. Dia memiliki senyum manis dan sorot mata tajam yang jarang diperlihatkan. Ada apa dengannya? Padahal menurutku keduanya adalah pesona bintang jatuh yang ditunggu-tunggu sekaligus tidak terduga seperti kehadirannya.
"Pokoknya, kurang-kurangi nyalahin diri sendiri. Just maybe, it's you, in another side. Let her out." Marlin menepuk lengan kiriku bertepatan dengan bis yang dia tunggu datang. Senyumnya hilang seiring bus membawanya pergi.
Tidak lama, gantian aku yang meninggalkan halte seiring bus yang ku tunggu datang dan pergi dalam hitungan detik. 'Shit' umpatku dalam hati karena masih juga nggak ada kursi kosong dan kini aku harus berdiri. Sambil menatap jalan di luar, sesekali kedua mataku lebih seru memandangi diri sendiri. Memperhatikan kerah kemeja yang aku lepas satu kancing atasnya tapi masih sopan aku beri peniti agar tidak terlalu rendah. Memperhatikan warna lipstick merah bata yang pudar di bibirku.
"It wasn't my fault, I'm an adult."
Perlahan senyum misterius sekaligus bergairah muncul. 'Itu dia'. Aku kembali mengulangi apa yang sudah aku lakukan dengan Rendy di kamar apartemennya tiga minggu lalu.
"Siapa suruh saling sentuh. Oh, shit, I think I wanna do it again."

Comments
Post a Comment