Ketika banyak motivator berkata love yourself dan banyak ajakan self love berkeliaran dimana-mana, aku justru tersesat dalam mencintai diriku. Bagaimana caranya? Aku sendiri berputar-putar mencari makna dan bentuk dari cinta. Apakah itu dengan bangun awal lalu lari pagi? atau keramas setiap hari dan pergi ke salon sebulan sekali? Bagaimana dengan tetap berpikir positif meski dunia begitu mencekam? Adakah bentuk cinta yang utuh yang dapat aku lihat dan jadikan sebagai contoh? Dan kemudian, meski aku lakukan itu semua, rasanya tetap sama. Tetap ada bagian dalam diri yang kosong dan tidak pernah cukup. Dan kemudian, sampai tiba waktunya aku bertemu Dia. Di dalam ruangan kecil berjendela tanpa jeruji, Psikolog yang duduk di hadapanku meminta aku untuk bertemu dengan sisi dan peran-peran yang sudah aku tulis sebelumnya. Dengan beberapa kali tarikan napas, aku menjelajahi bagian-bagian alam bawah sadar. Ada dua tempat yang begitu membuatku ingin mendatangin...
Kita pikir kita sudah benar-benar bebas. Padahal kita selalu berada di dalam ruangan. Ruangan bernama emosi, ingatan, harapan, ketakutan dan segala tetek bengek terkait manusia dan kemanusiaan yang nempel seperti amplop dan perangko. Susah dipisah! Lagian, manusia itu seperti gedung. Yang bila hanya kita bersedia menaruh perhatian, kita tahu bahwa bangunan itu terdiri dari banyak pemikiran dan ciri khas.