Hey, Aku masih berusaha mencari-cari letak jurang yang membuatku asing pada diri sendiri. Lagi, perasaan takut, khawatir, kalut yang juga berdampingan pada banyak pertanyaan apa pun di dunia ini masih terbawa dari Januari. Tentang kemana seharusnya aku pergi. Dimana aku berhenti. Dengan siapa aku bersama. Meski diriku yang lain berusaha menutup pintu dan mundur sejauh yang dia bisa. Bagian diri yang itu hanya sedang tidak percaya pada secangkir kopi yang disebut-sebut mampu menyalakan senyum seseorang. Dan Prep masih setia mendampingi langkahku menari di tengah suka cita yang berusaha kubangun di tengah semua itu. Aku rindu pada amanku. Rindu nyamanku. Rindu bahagiaku meski sendiri. Kadang kehampaan itu meluas seperti rembesan air di atas tissue yang mengisapku masuk ke dalam hutan mati yang sekarang kulabeli sebagai cold place. Tapi ini bulan cinta. Seingatku waktu itu seminggu menjelang masa akhir bulan cinta, akhirnya matahari terbit dengan begitu halus,...
Kita pikir kita sudah benar-benar bebas. Padahal kita selalu berada di dalam ruangan. Ruangan bernama emosi, ingatan, harapan, ketakutan dan segala tetek bengek terkait manusia dan kemanusiaan yang nempel seperti amplop dan perangko. Susah dipisah! Lagian, manusia itu seperti gedung. Yang bila hanya kita bersedia menaruh perhatian, kita tahu bahwa bangunan itu terdiri dari banyak pemikiran dan ciri khas.