Skip to main content

Timelapse Februari

Hey, 

Aku masih berusaha mencari-cari letak jurang yang membuatku asing pada diri sendiri. Lagi, perasaan takut, khawatir, kalut yang juga berdampingan pada banyak pertanyaan  apa pun di dunia ini masih terbawa dari Januari. Tentang kemana seharusnya aku pergi. Dimana aku berhenti. Dengan siapa aku bersama. Meski diriku yang lain berusaha menutup pintu dan mundur sejauh yang dia bisa. 


Bagian diri yang itu hanya sedang tidak percaya pada secangkir kopi yang disebut-sebut mampu menyalakan senyum seseorang. Dan Prep masih setia mendampingi langkahku menari di tengah suka cita yang berusaha kubangun di tengah semua itu. Aku rindu pada amanku. Rindu nyamanku. Rindu bahagiaku meski sendiri. 

Kadang kehampaan itu meluas seperti rembesan air di atas tissue yang mengisapku masuk ke dalam hutan mati  yang sekarang kulabeli sebagai cold place. Tapi ini bulan cinta. Seingatku waktu itu seminggu menjelang masa akhir bulan cinta, akhirnya matahari terbit dengan begitu halus, hangatnya membuat suka cita meluap. Langkahku ringan menari mengikuti setiap musik-musik Prep. 

Singkat cerita, aku pun bisa seperti kebanyakan orang yang berbagi rasa cinta dengan orang lain. Singkat cerita dan memang singkat. Sangat singkat. Kehadirannya nya adalah sinar matahari di musim hujan. 

Kehampaan tidak masuk akal kembali datang mengamuk seperti badai yang membawa dan menjatuhkan aku lebih keras ke dalam cold place. 


I wanna die,

I just wanna die.


Tidak ada permintaan lagi selain itu. Selain ingin keluar dari sana dan berhenti merasakan rasa sakit dengan cara apa pun termasuk dengan cara lama yang mampu membuatku biru-biru. Selama belasan tahun ku kira, kehampaan, kesedihan, dan apapun itu yang menyakitkan adalah ruang emosi yang normal dimiliki manusia. 

Namun aku lupa manusia punya semestanya masing-masing. Karenanya, ruang emosi di dalam semestaku berbeda dari kebanyakan manusia lain. Ruang emosiku adalah perubahan siang dan malam di dalam video timelapse. 

"There's something wrong with me, " I told to myself while I was sitting on the sofa.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Januari

Seperti gedung - gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, ada hawa kenangan lama yang menjadi debu menempel pada dinding marmer dingin atau menempel pada dinding lift dan tempat sampah. Tidak juga tersapu cairan pembersih, sebab itu adalah kenangan.  Kepada tahun lalu yang mungkin untuk sebagian orang adalah tahun terbaik, tapi juga bisa jadi yang terburuk untuk sebagian orang. Meski kembang api belasan warna meletus diangkasa yang gelap, tidak juga mampu melebur kenangan, konyol mana bisa kenangan dalam setahun penuh tersapu bersih dalam satu malam.  Seperti gedung-gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, aku juga sama. Melewati pembatas tahun dalam hitungan detik rasanya luar biasa, apalagi dilewati sambil menari-nari kecil dengan kuping tersumbat musik-musik PREP sepanjang jalan Sudirman. Kala itu tenang dan damai adalah kawan yang sangat menyenangkan. Kawan yang membuatku merasa jadi manusia dan wanita paling bahagia dengan ...

Hutan Mati di Bulan Maret

Jadi,  Rangkaian timelapse  yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop.   Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa?  Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...

The color of life - Marlin

Waktu itu sekitar pukul delapan malam-di dalam bis kota yang jendelanya berembun karena suhu AC yang sangat rendah dan aku sambil mendengar 'Rehat' lagu yang kuputar terus sejak hampir 30 menit lalu. Tiba-tiba seseorang berkata " it wasn't your fault ". Suaranya terdengar samar tapi sangat mampu membuatku heran.  Gimana nggak ? Pertama, kalimatnya seolah penengah antara aku dan pikiranku. Kedua, suara itu berasal dari orang asing. Ketiga, rok merah ketat pendek di atas lutut yang dia pakai sangat menarik perhatian. " It wasn't your fault. " Ulangnya sekali lagi sambil menatapku melalui pantulan kaca bus yang berembun.  "Kita hidup di berbagai sisi. Kamu bisa salah, bisa juga benar, bisa juga biasa aja. Berhenti nyalahin diri sendiri. Emang kenapa kalo kamu begitu? Kenapa kalo kamu melanggar janji ke diri sendiri?"  Aku mengetuk 2 kali earphone yang aku pakai karena ingin mendengar kalimatnya lebih jelas lagi. Musik berhenti. Aku menoleh ke ...