Jadi, Rangkaian timelapse yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop. Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa? Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...
Kita pikir kita sudah benar-benar bebas. Padahal kita selalu berada di dalam ruangan. Ruangan bernama emosi, ingatan, harapan, ketakutan dan segala tetek bengek terkait manusia dan kemanusiaan yang nempel seperti amplop dan perangko. Susah dipisah! Lagian, manusia itu seperti gedung. Yang bila hanya kita bersedia menaruh perhatian, kita tahu bahwa bangunan itu terdiri dari banyak pemikiran dan ciri khas.