Jadi,
Rangkaian timelapse yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird, karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya.
Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop.
Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku terkonfimasi satu gangguan kepribadian yang disebut Borderline Personality Disorder. Lega tapi tidak percaya. Kini, aku benar-benar menjadi subyek! Rangkaian timelapse-ku punya nama. Pintu menuju cold place kini bernama. Meskibegitu, tentu tidak tahu-tahu aku sembuh. Kejadian demi kejadian muncul dan membuat semangat ku semakin menciut.
Entah berapa kali dan berapa lama aku berada di cold place. Terkapar sendirian di tengah hutan mati, lembab, berkabut, tanah menjijikkan, dan pohon-pohon beranting botak. When I got relapse, I just couldn't help myself but scream and wish people are going to help me. Di sana aku lumpuh.
Meski tak membuatku sembuh, paling tidak kini langkahku punya navigator dan sedikit tahu harus kemana dan bagaimana. Aku ingin sembuh. Aku harus sembuh!
Aku ingin cold place tidak lagi bisa menarikku ke hutan mati.

Comments
Post a Comment