Skip to main content

Cerita Januari

Seperti gedung - gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, ada hawa kenangan lama yang menjadi debu menempel pada dinding marmer dingin atau menempel pada dinding lift dan tempat sampah. Tidak juga tersapu cairan pembersih, sebab itu adalah kenangan. 

Kepada tahun lalu yang mungkin untuk sebagian orang adalah tahun terbaik, tapi juga bisa jadi yang terburuk untuk sebagian orang. Meski kembang api belasan warna meletus diangkasa yang gelap, tidak juga mampu melebur kenangan, konyol mana bisa kenangan dalam setahun penuh tersapu bersih dalam satu malam. 

Seperti gedung-gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, aku juga sama. Melewati pembatas tahun dalam hitungan detik rasanya luar biasa, apalagi dilewati sambil menari-nari kecil dengan kuping tersumbat musik-musik PREP sepanjang jalan Sudirman. Kala itu tenang dan damai adalah kawan yang sangat menyenangkan. Kawan yang membuatku merasa jadi manusia dan wanita paling bahagia dengan apa yang aku punya dan apa yang belum aku punya. 

Kawan yang membuatku merasa menjadi manusia paling bangga karena masih bisa bertahan dan hidup dengan baik setelah bertemu jutaan ton masalah dan ketidakberpihakkan. Kawan yang aku tanyai bagaimana cara membekukan waktu sebab aku ingin hidup selamanya di tahun kemarin. 


                                      http://pascalcampion.tumblr.com/post/37796243398/the-cold-air-on-my-cheeks

Sayangnya si konyol menjadi nyata. Kenanganku di tahun lalu memudar, meski belum tersapu bersih. Tapi entah gimana, selang satu detik saja tenang dan damai berubah tidak lagi menyenangkan malah justru menarikku ke dalam tempat dingin nan kelam. Tidak lagi jadi kawan, justru menjadi sumber riak kegelisahan, ketakutan, kesunyian, kesepian, dan kehampaan lain yang jangkauannya begitu luas. 

Saking luasnya, kesadaranku saja ikut bergetar. Padahal di dalam kesadaran itu hiduplah suka cita dari suatu kesendirian. Lalu untuk pertama kali, aku membenci kesendirianku. Dan pertama kali pula, aku mengiba-ngiba pada keramaian, pada suara - suara berisik yang kuharap mampu menghangatkan kesadaran dan ketidaksadaranku. 

Aku di Januari seperti dua orang asing yang menolak saling kenal. Bagai air dan minyak. Langit dan bumi. Tetapi, aku masih bisa tetap hidup dengan baik. Dan terima kasih karena aku masih hidup dan tetap ingin hidup meski luasnya riak juga turut menggetarkan rasa ingin menyerah. 


Comments

Popular posts from this blog

Hutan Mati di Bulan Maret

Jadi,  Rangkaian timelapse  yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop.   Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa?  Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...

The color of life - Marlin

Waktu itu sekitar pukul delapan malam-di dalam bis kota yang jendelanya berembun karena suhu AC yang sangat rendah dan aku sambil mendengar 'Rehat' lagu yang kuputar terus sejak hampir 30 menit lalu. Tiba-tiba seseorang berkata " it wasn't your fault ". Suaranya terdengar samar tapi sangat mampu membuatku heran.  Gimana nggak ? Pertama, kalimatnya seolah penengah antara aku dan pikiranku. Kedua, suara itu berasal dari orang asing. Ketiga, rok merah ketat pendek di atas lutut yang dia pakai sangat menarik perhatian. " It wasn't your fault. " Ulangnya sekali lagi sambil menatapku melalui pantulan kaca bus yang berembun.  "Kita hidup di berbagai sisi. Kamu bisa salah, bisa juga benar, bisa juga biasa aja. Berhenti nyalahin diri sendiri. Emang kenapa kalo kamu begitu? Kenapa kalo kamu melanggar janji ke diri sendiri?"  Aku mengetuk 2 kali earphone yang aku pakai karena ingin mendengar kalimatnya lebih jelas lagi. Musik berhenti. Aku menoleh ke ...