Seperti gedung - gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, ada hawa kenangan lama yang menjadi debu menempel pada dinding marmer dingin atau menempel pada dinding lift dan tempat sampah. Tidak juga tersapu cairan pembersih, sebab itu adalah kenangan.
Kepada tahun lalu yang mungkin untuk sebagian orang adalah tahun terbaik, tapi juga bisa jadi yang terburuk untuk sebagian orang. Meski kembang api belasan warna meletus diangkasa yang gelap, tidak juga mampu melebur kenangan, konyol mana bisa kenangan dalam setahun penuh tersapu bersih dalam satu malam.
Seperti gedung-gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, aku juga sama. Melewati pembatas tahun dalam hitungan detik rasanya luar biasa, apalagi dilewati sambil menari-nari kecil dengan kuping tersumbat musik-musik PREP sepanjang jalan Sudirman. Kala itu tenang dan damai adalah kawan yang sangat menyenangkan. Kawan yang membuatku merasa jadi manusia dan wanita paling bahagia dengan apa yang aku punya dan apa yang belum aku punya.
Kawan yang membuatku merasa menjadi manusia paling bangga karena masih bisa bertahan dan hidup dengan baik setelah bertemu jutaan ton masalah dan ketidakberpihakkan. Kawan yang aku tanyai bagaimana cara membekukan waktu sebab aku ingin hidup selamanya di tahun kemarin.
Sayangnya si konyol menjadi nyata. Kenanganku di tahun lalu memudar, meski belum tersapu bersih. Tapi entah gimana, selang satu detik saja tenang dan damai berubah tidak lagi menyenangkan malah justru menarikku ke dalam tempat dingin nan kelam. Tidak lagi jadi kawan, justru menjadi sumber riak kegelisahan, ketakutan, kesunyian, kesepian, dan kehampaan lain yang jangkauannya begitu luas.
Saking luasnya, kesadaranku saja ikut bergetar. Padahal di dalam kesadaran itu hiduplah suka cita dari suatu kesendirian. Lalu untuk pertama kali, aku membenci kesendirianku. Dan pertama kali pula, aku mengiba-ngiba pada keramaian, pada suara - suara berisik yang kuharap mampu menghangatkan kesadaran dan ketidaksadaranku.
Aku di Januari seperti dua orang asing yang menolak saling kenal. Bagai air dan minyak. Langit dan bumi. Tetapi, aku masih bisa tetap hidup dengan baik. Dan terima kasih karena aku masih hidup dan tetap ingin hidup meski luasnya riak juga turut menggetarkan rasa ingin menyerah.

Comments
Post a Comment