Sejak lilin petanda usia 17 tahun, aku menyambut dunia penuh gairah kebebasan dan suka cita. Rasanya seperti ada Pelangi yang terbentang menungguku, naif sekali. Aku yang masih “hijau” kala itu lupa, bahwa tidak pernah ada Pelangi tanpa mendung dan hujan. Lalu, bermodal antusias aku pergi meninggalkan rumah . Namun, modal itu nyatanya tidak cukup kokoh melewati mendung dan hujan kala itu. Bertahun - tahun kemudian, aku sadar bahwa telah ada rasa kalah ditengah sesak kesedihan dan kecewa. Sedih karena tahu dunia di luar rumah tidak semenarik warna Pelangi yang bahkan belum pernah kulihat benar atau tidak adanya. Kecewa karena tahu aku lemah, saat itu. Dan saat itu, berkawan lelah, setelah puluhan ribu hari, aku memutuskan pulang. * https://id.pinterest.com/pin/372109987974733217/ Sepanjang perjalanan pulang, melewati jalan kecil selebar urat nadi, aku mendengar kamu, mendengar kalian, mendengar mereka. Lantang berteriak memohonku kembali. Namun, setiap kutolehkan kepala, tidak aku ...
Kita pikir kita sudah benar-benar bebas. Padahal kita selalu berada di dalam ruangan. Ruangan bernama emosi, ingatan, harapan, ketakutan dan segala tetek bengek terkait manusia dan kemanusiaan yang nempel seperti amplop dan perangko. Susah dipisah! Lagian, manusia itu seperti gedung. Yang bila hanya kita bersedia menaruh perhatian, kita tahu bahwa bangunan itu terdiri dari banyak pemikiran dan ciri khas.