Skip to main content

Pulang - Susanne (Pt. 1)

Sejak lilin petanda usia 17 tahun, aku menyambut dunia penuh gairah kebebasan dan suka cita. Rasanya seperti ada Pelangi yang terbentang menungguku, naif sekali. Aku yang masih “hijau” kala itu lupa, bahwa tidak pernah ada Pelangi tanpa mendung dan hujan. Lalu, bermodal antusias aku pergi meninggalkan rumah.  Namun, modal itu nyatanya tidak cukup kokoh melewati mendung dan hujan kala itu.

Bertahun - tahun kemudian, aku sadar bahwa telah ada rasa kalah ditengah sesak kesedihan dan kecewa. Sedih karena tahu dunia di luar rumah tidak semenarik warna Pelangi yang bahkan belum pernah kulihat benar atau tidak adanya. Kecewa karena tahu aku lemah, saat itu.

Dan saat itu, berkawan lelah, setelah puluhan ribu hari, aku memutuskan pulang.

*

https://id.pinterest.com/pin/372109987974733217/


Sepanjang perjalanan pulang, melewati jalan kecil selebar urat nadi, aku mendengar kamu, mendengar kalian, mendengar mereka. Lantang berteriak memohonku kembali. Namun, setiap kutolehkan kepala, tidak aku temukan siapapun, kecuali kesadaran dan pertanyaan “sebenarnya aku harus kembali pada apa dan siapa?” 

Apakah pada kamu yang membuatku berpikir telah menemukan rumah baru? Pada kalian yang mendorongku ke arah yang keliru? Atau pada mereka yang sembunyi-sembunyi menipuku? Tidak ada sesak yang lebih sesak daripada pertanyaan yang tidak pernah menemui jawabannya, tapi tidak juga aku berhenti bertanya “kenapa aku?”.

Lalu sekali lagi, aku mendengar semuanya berteriak, “kembali, jangan pergi, mari kita coba dari awal,” dan banyak kata lain termasuk memohon maaf. Sesekali malah bukan hanya suara, tapi juga wewangian. Daya pikatnya jauh lebih besar ketimbang suara. Aku bisa pura-pura tuli, tapi aku tidak pernah benar-benar tidak bisa tidak menghirup aromanya.

Sekujur badanku seperti ditarik sebuah tangan besar setiap kali aku menghirup aromanya. Tangan itu menaruhku kembali pada hal-hal yang tidak lagi mau aku ingat dan aku lihat. Suara dan wewangian membuatku jatuh-bangun, kadang sesekali tersandung. Karena itulah, jalan pulangku terasa tidak berujung. Mungkin sudah berhari-hari, mingguan, bulan, atau barangkali tahunan. Yang pasti rasanya begitu lama.

Akhirnya pada suatu pergantian hari, aku menyadari jalan pulangku sudah semakin dekat meski pemandangannya berbeda. Ada banyak hal-hal asing yang aku temui sepanjang jalan. Misalnya Lily putih bersenandung sedih. Bunga Daisy yang sebagian kelopaknya berwarna hitam. Pepohonan mati dan beranting tajam melengkung. Burung-burung kecil yang tidak berhenti mengoceh. Warna langit berubah-ubah, kadang dia biru, jingga, kelabu, dan berulang seperti itu. Lalu diantara semak-semak di kanan-kiri jalan, ada banyak mata yang memperhatikanku. Mata yang selalu menutup tiap aku dekati. 

Kemudian, perjalanan pulang ini menyisahkan beberapa ratus meter lagi. Di depan, aku melihat rumah berlantai dua, bercat biru muda dan jauh lebih kusam dari terakhir aku tinggalkan. Berpagar kayu reyot yang dibeberapa sisi lapuk dimakan rayap. Aku menatap jendela bulat di loteng rumah. Dari sanalah aku menatap dan berpikir dunia luar memiliki segala yang aku cari. Namun jendela itu kini, retak. Diantara ketidakmenarikan rumah itu, aku menemukan taman berbagai bunga. Semilir angin meniup Poppy Merah, Easter Lily, Iris, Krisan Merah, dan Snow Drop yang tumbuh mengelilingi pagar rumah. Dan betapa terkejutnya aku ketika memasuki halaman rumah, rumput tumbuh subur dan hijau segar mengelilingi pekarangan.

“Kok bisa, padahal aku nggak di sini?”

Belum habis rasa heran, tiba-tiba terdengar suara menyapa, “Akhirnya kamu sampai,” katanya sambil berdiri di depan rumah. 

-- tbc --

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Januari

Seperti gedung - gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, ada hawa kenangan lama yang menjadi debu menempel pada dinding marmer dingin atau menempel pada dinding lift dan tempat sampah. Tidak juga tersapu cairan pembersih, sebab itu adalah kenangan.  Kepada tahun lalu yang mungkin untuk sebagian orang adalah tahun terbaik, tapi juga bisa jadi yang terburuk untuk sebagian orang. Meski kembang api belasan warna meletus diangkasa yang gelap, tidak juga mampu melebur kenangan, konyol mana bisa kenangan dalam setahun penuh tersapu bersih dalam satu malam.  Seperti gedung-gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, aku juga sama. Melewati pembatas tahun dalam hitungan detik rasanya luar biasa, apalagi dilewati sambil menari-nari kecil dengan kuping tersumbat musik-musik PREP sepanjang jalan Sudirman. Kala itu tenang dan damai adalah kawan yang sangat menyenangkan. Kawan yang membuatku merasa jadi manusia dan wanita paling bahagia dengan ...

Hutan Mati di Bulan Maret

Jadi,  Rangkaian timelapse  yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop.   Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa?  Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...

The color of life - Marlin

Waktu itu sekitar pukul delapan malam-di dalam bis kota yang jendelanya berembun karena suhu AC yang sangat rendah dan aku sambil mendengar 'Rehat' lagu yang kuputar terus sejak hampir 30 menit lalu. Tiba-tiba seseorang berkata " it wasn't your fault ". Suaranya terdengar samar tapi sangat mampu membuatku heran.  Gimana nggak ? Pertama, kalimatnya seolah penengah antara aku dan pikiranku. Kedua, suara itu berasal dari orang asing. Ketiga, rok merah ketat pendek di atas lutut yang dia pakai sangat menarik perhatian. " It wasn't your fault. " Ulangnya sekali lagi sambil menatapku melalui pantulan kaca bus yang berembun.  "Kita hidup di berbagai sisi. Kamu bisa salah, bisa juga benar, bisa juga biasa aja. Berhenti nyalahin diri sendiri. Emang kenapa kalo kamu begitu? Kenapa kalo kamu melanggar janji ke diri sendiri?"  Aku mengetuk 2 kali earphone yang aku pakai karena ingin mendengar kalimatnya lebih jelas lagi. Musik berhenti. Aku menoleh ke ...