Sejak lilin petanda usia 17 tahun, aku menyambut dunia penuh gairah kebebasan dan suka cita. Rasanya seperti ada Pelangi yang terbentang menungguku, naif sekali. Aku yang masih “hijau” kala itu lupa, bahwa tidak pernah ada Pelangi tanpa mendung dan hujan. Lalu, bermodal antusias aku pergi meninggalkan rumah. Namun, modal itu nyatanya tidak cukup kokoh melewati mendung dan hujan kala itu.
Bertahun - tahun kemudian, aku sadar bahwa telah ada rasa kalah ditengah sesak kesedihan dan kecewa. Sedih karena tahu dunia di luar rumah tidak semenarik warna Pelangi yang bahkan belum pernah kulihat benar atau tidak adanya. Kecewa karena tahu aku lemah, saat itu.
Dan saat itu, berkawan lelah, setelah puluhan ribu hari, aku memutuskan pulang.
*
Sepanjang perjalanan pulang, melewati
jalan kecil selebar urat nadi, aku mendengar kamu, mendengar kalian, mendengar
mereka. Lantang berteriak memohonku kembali. Namun, setiap kutolehkan kepala,
tidak aku temukan siapapun, kecuali kesadaran dan pertanyaan “sebenarnya aku
harus kembali pada apa dan siapa?”
Apakah pada kamu yang membuatku
berpikir telah menemukan rumah baru? Pada kalian yang mendorongku ke arah yang keliru?
Atau pada mereka yang sembunyi-sembunyi menipuku? Tidak ada sesak yang lebih
sesak daripada pertanyaan yang tidak pernah menemui jawabannya, tapi tidak juga
aku berhenti bertanya “kenapa aku?”.
Lalu sekali lagi, aku mendengar
semuanya berteriak, “kembali, jangan pergi, mari kita coba dari awal,” dan
banyak kata lain termasuk memohon maaf. Sesekali malah bukan hanya suara, tapi
juga wewangian. Daya pikatnya jauh lebih besar ketimbang suara. Aku bisa
pura-pura tuli, tapi aku tidak pernah benar-benar tidak bisa tidak menghirup aromanya.
Sekujur badanku seperti ditarik
sebuah tangan besar setiap kali aku menghirup aromanya. Tangan itu menaruhku
kembali pada hal-hal yang tidak lagi mau aku ingat dan aku lihat. Suara dan wewangian
membuatku jatuh-bangun, kadang sesekali tersandung. Karena itulah, jalan pulangku
terasa tidak berujung. Mungkin sudah berhari-hari, mingguan, bulan, atau barangkali
tahunan. Yang pasti rasanya begitu lama.
Akhirnya pada suatu pergantian
hari, aku menyadari jalan pulangku sudah semakin dekat meski pemandangannya
berbeda. Ada banyak hal-hal asing yang aku temui sepanjang jalan. Misalnya Lily
putih bersenandung sedih. Bunga Daisy yang sebagian kelopaknya berwarna hitam.
Pepohonan mati dan beranting tajam melengkung. Burung-burung kecil yang tidak berhenti
mengoceh. Warna langit berubah-ubah, kadang dia biru, jingga, kelabu, dan berulang
seperti itu. Lalu diantara semak-semak di kanan-kiri jalan, ada banyak mata
yang memperhatikanku. Mata yang selalu menutup tiap aku dekati.
Kemudian, perjalanan pulang ini
menyisahkan beberapa ratus meter lagi. Di depan, aku melihat rumah berlantai dua,
bercat biru muda dan jauh lebih kusam dari terakhir aku tinggalkan. Berpagar
kayu reyot yang dibeberapa sisi lapuk dimakan rayap. Aku menatap jendela bulat di
loteng rumah. Dari sanalah aku menatap dan berpikir dunia luar memiliki segala
yang aku cari. Namun jendela itu kini, retak. Diantara ketidakmenarikan rumah
itu, aku menemukan taman berbagai bunga. Semilir angin meniup Poppy Merah, Easter
Lily, Iris, Krisan Merah, dan Snow Drop yang tumbuh mengelilingi pagar
rumah. Dan betapa terkejutnya aku ketika memasuki halaman rumah, rumput tumbuh
subur dan hijau segar mengelilingi pekarangan.
“Kok bisa, padahal aku nggak di sini?”
Belum habis rasa heran, tiba-tiba terdengar suara menyapa, “Akhirnya kamu sampai,” katanya sambil berdiri di depan rumah.
-- tbc --

Comments
Post a Comment