Skip to main content

Perempuan Dalam Gelap

Ketika banyak motivator berkata love yourself dan banyak ajakan self love berkeliaran dimana-mana, aku justru tersesat dalam mencintai diriku. Bagaimana caranya? Aku sendiri berputar-putar mencari makna dan bentuk dari cinta. 

Apakah itu dengan bangun awal lalu lari pagi? atau keramas setiap hari dan pergi ke salon sebulan sekali? Bagaimana dengan tetap berpikir positif meski dunia begitu mencekam? Adakah bentuk cinta yang utuh yang dapat aku lihat dan jadikan sebagai contoh? 

Dan kemudian, meski aku lakukan itu semua, rasanya tetap sama. Tetap ada bagian dalam diri yang kosong dan tidak pernah cukup. 

Dan kemudian, sampai tiba waktunya aku bertemu Dia. 

Di dalam ruangan kecil berjendela tanpa jeruji, Psikolog yang duduk di hadapanku meminta aku untuk bertemu dengan sisi dan peran-peran yang sudah aku tulis sebelumnya. Dengan beberapa kali tarikan napas, aku menjelajahi bagian-bagian alam bawah sadar. 

Ada dua tempat yang begitu membuatku ingin mendatanginya. Tempat itu bernama 'Tidak Inginkan' dan 'Tidak Dicintai'. Mereka mengiba berharap berbicara padaku. Tapi aku hanya diperbolehkan menemui salah satu diantara keduanya. 

Degup jantungku meningkat memikirkan siapa yang harus kudatangi. Akhirnya aku memilih Dia, Tidak Dicintai. 

"Hai," sapaku pada sosok perempuan yang berdiri mirip seperti aku meski tanpa wajah, Dia terperangkap di dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti penjara karena ruangan itu dipagari besi-besi. 

Dia terlihat lusuh, tanpa sinar semangat membuatnya terlihat kusam dan payah. Dia membalas sapaanku lesu dengan wajah tertunduk dan kedua mata menatap kedua kaki telanjangnya. 

"Kenapa baru sekarang?" tanya Dia penasaran tetap menundukkan wajahnya ke tanah. 

Napasku memburu mendengar pertanyaan yang tidak aku duga. Apakah memang benar baru sekarang aku melihat dirinya? Apakah benar baru sekarang aku menyapanya? Aku tidak menjawab dan tidak berkata apapun, hanya tetap melihatnya kelu. 

Suara Psikologku terdengar, memintaku bertanya padanya apa yang Dia inginkan. 

"Apa yang kamu inginkan?" tanyaku dengan suara sedikit bergetar. 

"Aku selalu ingin cinta. Kamu tau, kenapa masih tanya?" Nada suaranya meninggi, Dia mundur selangkah menjauhiku. Tubuhnya sedikit termakan gelap. 

"Lalu apa yang bisa kamu tawarkan?" Tanyaku mengikuti perkataan Psikolog bertanya pada Dia. 

Dia menjawab cepat, "Ini, ruang luas yang gelap dan hampa."

Aku menelan ludah. Aku alihkan pandangan mengikuti Dia melihat ruangan itu. Begitu sepi dan hitam pekat. 

"Sebenarnya kamu melindungu aku dari apa?" tanyaku masih mengikuti arahan Psikolog. 

"Aku berusaha melindungi kamu dari kesepian. Dari rasa tidak nyaman ditinggalkan." Suara Dia terdengar marah. Hampir semua kata, Dia tekan. 

Kemudian Psikolog memintaku kembali bertanya hal yang membuatku kembali bergetar. Sebab, aku dan Dia sama-sama tahu hal yang diinginkan adalah semacam barang langkah. Meski begitu, aku tetap menanyakannya. 

"Apa aku nggak cukup buat kamu? Aku bisa kasih." 

Dia mendengus dan tertawa tipis. Sembari dengan itu, Psikologku bertanya dengan penasaran bagaimana reaksi dan apa yang Dia katakan. 

"Dia bilang, Aku tidak cukup. Dia juga menyalahkan aku karena selalu bersikap aneh, jahat sampai bikin orang-orang pergi." Jawabku lirih kepada Psikolog. Psikologku diam sejenak. 

"Bilang padanya bahwa kamu masih berproses dan memintanya untuk menghargai proses yang kamu lakukan." Sambung Psikologku.

Dadaku sesak, sangat sesak. Perkataan Dia membuat air mataku berkumpul di pelupuk mata, sebab perkataannya menarik serta ingatan satu-dua kejadian dengan beberapa orang baru-baru ini yang berakhir dengan tidak baik semakin mencekik jantung dan paru-paruku. Hampir saja aku tumbang di sana meski tidak dapat aku pungkiri aku ingin pergi saja dari sana. 

"Bisa dia menerima proses kamu?" Suara Psikolog menggodaku untuk kembali fokus. Aku diam, sebab sesak menyumbat semua kata yang ingin aku ucapkan. Aku masih diam dan malah berusaha mengatur nafas. 

Dia masih di sana. Meski tak berwajah, aku bisa rasakan kemarahan dan kebenciannya padaku dan keadaan kami. 

"I'm so sorry, sorry." Aku mengiba padanya. "Aku janji, aku akan berusaha memberikan cinta, meski belum sesuai yang kamu butuhkan. Tapi, aku akan merawat kita. I promise you." 

"Bisa Dia menerima proses kamu?" tanya ulang Psikolog.

Aku tidak langsung menjawab karena masih berusaha mengatur nafas dan sibuk menerka-nerka reaksinya. Please. Aku mengiba sekali lagi padanya. 

Ketika aku hampir bersiap kembali pada kesadaran, Dia berjalan mendekatiku. 

"Make us happy.

Aku tersenyum tipis sambil mengangguk. Anggukan itu dilihat serta oleh Psikologku. Tidak lama, Psikologku meminta kembali dan bergabung bersamanya. 

**

Perjalanan ke alam bawah sadar selalu melelahkan, tapi pertemuan dengan Dia adalah hal lain. Pertemuan itu menguras tenagaku. 

Aku menahan tangis dan pedih ketika kembali pada kesadaran. Aku hanya diam, mengatur nafas, dan duduk bersandar sambil menyeka air mata. Aku tahu rasa tidak cintai adalah satu dari gejalanya. Tapi baru kali ini aku benar-benar menemui Dia. Perempuan dalam gelap. 

Sosok yang selama ini bersembunyi dan hanya memberikan rasa. Tapi beberapa kali juga berusaha mengambil kesadaranku begitu impulsif. Dampaknya? Membuatku melakukan hal-hal yang akan terlihat tidak menghargai orang lain, egois, dan memaksa. 

Tapi aku paham inginya. Aku paham bagaimana Dia berusaha hidup di bawah sana dengan gelap pekat yang memenjaranya. 

Hei, Perempuan Dalam Gelap, aku mohon bersabar. Untuk saat ini biar aku yang memberikan cinta itu untuk kita. 

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Januari

Seperti gedung - gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, ada hawa kenangan lama yang menjadi debu menempel pada dinding marmer dingin atau menempel pada dinding lift dan tempat sampah. Tidak juga tersapu cairan pembersih, sebab itu adalah kenangan.  Kepada tahun lalu yang mungkin untuk sebagian orang adalah tahun terbaik, tapi juga bisa jadi yang terburuk untuk sebagian orang. Meski kembang api belasan warna meletus diangkasa yang gelap, tidak juga mampu melebur kenangan, konyol mana bisa kenangan dalam setahun penuh tersapu bersih dalam satu malam.  Seperti gedung-gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, aku juga sama. Melewati pembatas tahun dalam hitungan detik rasanya luar biasa, apalagi dilewati sambil menari-nari kecil dengan kuping tersumbat musik-musik PREP sepanjang jalan Sudirman. Kala itu tenang dan damai adalah kawan yang sangat menyenangkan. Kawan yang membuatku merasa jadi manusia dan wanita paling bahagia dengan ...

Hutan Mati di Bulan Maret

Jadi,  Rangkaian timelapse  yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop.   Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa?  Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...

The color of life - Marlin

Waktu itu sekitar pukul delapan malam-di dalam bis kota yang jendelanya berembun karena suhu AC yang sangat rendah dan aku sambil mendengar 'Rehat' lagu yang kuputar terus sejak hampir 30 menit lalu. Tiba-tiba seseorang berkata " it wasn't your fault ". Suaranya terdengar samar tapi sangat mampu membuatku heran.  Gimana nggak ? Pertama, kalimatnya seolah penengah antara aku dan pikiranku. Kedua, suara itu berasal dari orang asing. Ketiga, rok merah ketat pendek di atas lutut yang dia pakai sangat menarik perhatian. " It wasn't your fault. " Ulangnya sekali lagi sambil menatapku melalui pantulan kaca bus yang berembun.  "Kita hidup di berbagai sisi. Kamu bisa salah, bisa juga benar, bisa juga biasa aja. Berhenti nyalahin diri sendiri. Emang kenapa kalo kamu begitu? Kenapa kalo kamu melanggar janji ke diri sendiri?"  Aku mengetuk 2 kali earphone yang aku pakai karena ingin mendengar kalimatnya lebih jelas lagi. Musik berhenti. Aku menoleh ke ...