Skip to main content

SEPI SENDIRI - Lina

Ketakutan yang merambati diriku malam ini membawaku pada Lina. Dia adalah gadis kecil kelas dua sekolah dasar, bermata cokelat apabila kamu melihatnya dari dekat, dia kurus tapi bukan berarti dia tidak suka makan. Rambutnya panjang hitam dan lebat. Lina menyukai dress biru selutut yang dibelikan ibunya di Idul Fitri tahun lalu, hanya saja saat ini situasi sekeliling membuat dia tidak menikmati indahnya dress biru. 

Padahal hari itu masih siang. Sekitar antara pukul dua siang menuju setengah tiga sore. Lina meringkuk di kasur bawah ranjang susun milik dia dan adiknya. Ku kira dia ketakutan karena rumor hantu yang beredar di dalam rumah, ternyata bukan. 

Diam-diam wajah Lina basah. Tangisannya sepi meski begitu sesekali dia gemetar karena sesenggukan. Aku tidak tahu harus apa meski ingin menyapa dan menghibur, tapi ruang dan waktu membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku bahkan tidak sadar, kejadian itu begitu mengiris hati anak seusia Lina. 

Sepi Sendiri

Lina berharap pukul empat nanti-ketika Ibu dan Ayahnya pulang bekerja, dia bisa berkeluh kesah pada Ibu. Dia ingin menumpahkan semua rasa tidak enak yang dari tadi membuatnya menangis hingga tertidur. 

Lalu, pukul empat lewat sepuluh menit, suara kunci yang masuk ke dalam lubangnya menyadarkan Lina. Dibukanya perlahan kedua mata yang terasa berat. Lina bangun dari tempat tidur, tangannya mengantung di sadel pintu, lama menggantung, sampai dia mundur dan kembali meringkuk ke tempat tidur. 

Kali ini dia tidur menghadap langit-langit, tepatnya bagian bawa dari lantai kasur atas ranjang susunnya. Lina menghitung jumlah besi penyangga sambil berusaha melupakan yang membuat hatinya perih dan berusaha tidak mendengarkan Ibu dan Ayahnya saling berteriak sejak keduanya masuk rumah. Lina membalikkan badannya menghadap dinding. Jemari tangannya mengusap pipi, sementara jemari tangan satunya meremas-remas linen. Lina menutup mata. 

Dia ingin tenang dan dia ingin merasa tidak memiliki perasaan seperti tadi siang tapi yang dia dapatkan malah segerombolan rasa tidak nyaman menyerbu Lina. Belum habis Lina pada pencarian rasa aman tenangnya, badannya mendadak gemetar ketika pintu kamar dibuka dan menimbulkan suara dentuman sangat keras. 

Suara Ibu kemudian menyusul meski dentuman pintu belum reda. Bukan suara lembut yang Lina cari, melainkan suara dan kata-kata yang membuatnya semakin merasakan hal yang tidak ingin dia rasakan. 

-----

Empat anak sekolah berpakaian seragam merah-putih berdiri di tepi jalan menunggu anggkutan umum. Lina berdiri paling kanan diantara teman-temannya. Satu demi satu mikrolet biru yang mereka tunggu tidak mau berhenti karena penuh. Entah apa yang sedang menjadi lamunan Lina saat itu hingga dia tidak sadar satu angkot kosong melewati mereka lalu ketika dia menoleh ke arah kiri, dia sadar hanya dia di jalan itu. 

Lina melihat ketiga teman-temannya sudah berada di dalam mikrolet yang semakin jauh. Mereka tertawa-tawa sambil menunjuk Lina. Dia menarik napas panjang sekali, Lina gemetar menahan perasaan tidak nyaman di tepi jalan seorang diri tanpa memalingkan pandangannya dari mikrolet biru di depannya. 

-------------------

Aku pikir, pilu dari kejadian-kajadian hari itu akan lenyap seiring matahari esok datang, tapi bukan Lina yang pendendam melainkan dia hanya tidak tahu bagaimana memperlakukan perasaan yang membuat air matanya keluar sehingga tanpa sadar Lina menyimpannya disebuah ruang yang dia beri nama 'Ruang Ketidaksadaran'.

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Januari

Seperti gedung - gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, ada hawa kenangan lama yang menjadi debu menempel pada dinding marmer dingin atau menempel pada dinding lift dan tempat sampah. Tidak juga tersapu cairan pembersih, sebab itu adalah kenangan.  Kepada tahun lalu yang mungkin untuk sebagian orang adalah tahun terbaik, tapi juga bisa jadi yang terburuk untuk sebagian orang. Meski kembang api belasan warna meletus diangkasa yang gelap, tidak juga mampu melebur kenangan, konyol mana bisa kenangan dalam setahun penuh tersapu bersih dalam satu malam.  Seperti gedung-gedung kantor yang kembali ramai setelah sepi ditinggal libur, aku juga sama. Melewati pembatas tahun dalam hitungan detik rasanya luar biasa, apalagi dilewati sambil menari-nari kecil dengan kuping tersumbat musik-musik PREP sepanjang jalan Sudirman. Kala itu tenang dan damai adalah kawan yang sangat menyenangkan. Kawan yang membuatku merasa jadi manusia dan wanita paling bahagia dengan ...

Hutan Mati di Bulan Maret

Jadi,  Rangkaian timelapse  yang aneh itu, memperjelas episode emosi naik - turun ekstrim. Bersamaan dengan kesadaran itu hadir, muncul pula pikiran menemui bantuan profesional. Sesi konselingnya online. That was weird , karena biasanya aku bicara dengan Psikolog untuk membahas suatu kasus demi tugas. Tapi saat itu, aku adalah subyeknya. Tiga kali sesi konseling secara online, we talked about my emotions, experiences, pain, and the wounds that lived in the past. I must dig the old grave of the child stories. I cried a lot clueless about how to stop.   Aku masih ingat bagaimana doaku pada Desember lalu tentang tahun ini. Aku juga masih ingat bagaimana tidak sabarnya aku menjalani detik demi detik penuh rasa syukur dan optimis. Tidak ada yang tahu bahwa hingga Maret aku masih seperti terkena imbas dari isi kotak Pandora. Semangat hidupku menciut. Nyaliku juga. Aku punya banyak tanda tanya kenapa, kenapa, dan kenapa?  Lalu suatu hari, pertanyaannya ku terjawab. Hey, aku...

The color of life - Marlin

Waktu itu sekitar pukul delapan malam-di dalam bis kota yang jendelanya berembun karena suhu AC yang sangat rendah dan aku sambil mendengar 'Rehat' lagu yang kuputar terus sejak hampir 30 menit lalu. Tiba-tiba seseorang berkata " it wasn't your fault ". Suaranya terdengar samar tapi sangat mampu membuatku heran.  Gimana nggak ? Pertama, kalimatnya seolah penengah antara aku dan pikiranku. Kedua, suara itu berasal dari orang asing. Ketiga, rok merah ketat pendek di atas lutut yang dia pakai sangat menarik perhatian. " It wasn't your fault. " Ulangnya sekali lagi sambil menatapku melalui pantulan kaca bus yang berembun.  "Kita hidup di berbagai sisi. Kamu bisa salah, bisa juga benar, bisa juga biasa aja. Berhenti nyalahin diri sendiri. Emang kenapa kalo kamu begitu? Kenapa kalo kamu melanggar janji ke diri sendiri?"  Aku mengetuk 2 kali earphone yang aku pakai karena ingin mendengar kalimatnya lebih jelas lagi. Musik berhenti. Aku menoleh ke ...